Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2020

BAIJU NOYAN - KOMANDAN DARI MONGOLIA

Juni 26, 2020 0



Dia adalah salah seorang pangglima Mongol untuk kawasan Persia(1230-1260). Mulanya ia adalah bawahan Chormaqan. Setelah Chormaqan wafat, ia ditunjuk oleh Ogodai Khan untuk menggantikannnya dan bertugas untuk memperluas Ekspansi mongol dikawasan itu. Baiju mengambil alih komando pada tahun 1241 atau 1242, dan segera setelah itu memerangi Kesultanan Seljuk Rum dan mengalahkannya dalam Perang Kosedag pada tahun 1243 M, yang mengakibatkan Kesultanan Seljuk Rum menjadi vassal Imperium Mongolia. Baiju juga memimpin penyerangan ke Suriah pada tahun 1246. Antara tahun 1238-1246, ia juga menyerang kekhalifahan Abbasiyah meski hanya mendapatkan keberhasilan yang kecil
Ketika Guyuk menjadi Khan Mongol pada tahun 1246, posisinya digantikan oleh Eljigidei. Namun ketika Mongke Khan berkuasa pada tahun 1251, Baiju kembali menempati posisi itu, sedangkan Eljigidei dan keluarganya dihukum mati.
Di bawah komando Baiju, kekuasaan mongol dikawasan Persia, georgia dan sekitarnya relative stabil. Baiju bahkan mempengaruhi suksesi kekuasaan dan menarik upeti di wilayah-wilayah itu. Praktis hanya kekhalifahan Abbasiyah dan Kaum Assassin di pegunungan Elbruz yang masih lepas dari pengaruh Mongol sampai kedatangan Hülagü, saudara Mongke, pada tahun 1255.
Baiju konon dicela oleh Hulegu karena gagal memperluas kekuasaan Mongol lebih jauh. Oleh karena, pada tahun 1255 M, Hulagu mengambil alih komando tertinggi kawasan itu, dan Baiju menjadi bawahan Hulagu. Ia tetap mengabdi dengan baik dan kembali memerangi Kesultanan Seljuk Rum untuk mengambil upeti dan mengganti sultan pada tahun 1256, juga ikut dalam serangan di Baghdad pada tahun 1258, dan juga ikut dalam gerakan pasukan menuuju Suriah dan Mesir pada tahun 1259.
Tidak jelas apa yang terjadi pada Baiju setelah itu, ketika sejumlah pasukan Mongol mundur untuk kembali ke Karakhorum mengikuti Hulagü yang pulang begitu mendengar wafatnya Mongke Khan pada tahun 1260. Sementara sisa pasukan dikomandoi oleh Kitbuqa. Menurut Rashid al-Din, Baiju dihukum mati oleh Hulagü karena gagal menghentikan pasukan Golden Horde yang melarikan diri dari Persia. Posisinya diberikan kepada putra Chormagan, Shiremun.

Dalam serial Dirilis Ertugrul (sekitar tahun 1229-1230), Baichu Noyan melakukan operasi pengintaian di Erzurum. Perkemahan suku Kayyi dihancurkan. Banyak penduduknya dibantai. Ertugrul Bey bahkan ditangkap oleh orang-orang mongol dan dihadapkan ke Noyan. Oleh Noyan, Ertugrul ditawari untuk menjadi Pangglima Mongol dalam rangka operasi penaklukan Anatolia. Tapi Ertugrul menolak, dan kemudian disiksa. Akhirnya Ertugrul bey berhasil melarikan diri dan melakukan operasi balas dendam terhadap Baichu Noyan. Menjelang akhir season 2, terlihat Noyan akhirnya dikalahkan dan ‘mati’.

Tapi rupanya tokoh Baichu Noyan tidak benar-benar mati. Tokoh ini muncul kembali menjelang berakhirnya berakhirnya serial Dirilis Ertugrul Season 4. Baichu Noyan bahkan menyusupkan adiknya ke perkemahan Kayyi untuk memata-matai Ertugrul.

DIRILIS ERTUGRUL SEASON 5 DAN BERKE KHAN

Juni 26, 2020 0


Dalam dirilis Ertugrul Season 5, dikisahkan dalam rangka membebaskan Anatolia dari penguasaan Imperium Mongolia, Ertugrul Bey menjalin aliansi dengan Berke Khan dari negara Golden Horde. Bahkan Ertugrul menemui Berke Khan dinegaranya. Siapakah Berke Khan ini…?
Berke Khan adalah cucu dari Genghis Khan. Dia adalah putra Jochi, adik dari Batu Khan yang mendirikan negara Golden Horde yang menguasai kawasan Rusia.
Pada tahun 1236 M, Berke bergabung dengan saudara laki-lakinya Orda, Sinkur, dan Shiban dan sepupu-sepupunya di bawah kepemimpinan Batu Khan dalam pasukan yang sangat luas, yang terdiri dari sekitar 150.000 tentara, yang berbaris dari Siberia dan ke wilayah Muslim Volga Bulgaria dan Kipchak, yang kemudian mereka mereka taklukkan. Batu dan Subutai mengirim Berke ke kawasan utara Kaukasus untuk menaklukkan bangsa Kipchak di sana. Selanjutnya mereka menghancurkan kerajaan Ryazan dan Suzdal pada 1237, dan bergerak lebih jauh ke Rusia. Selama musim dingin 1238-39, Berke mengalahkan bangsa Kipchak dan memenjarakan kepala suku Merkit. Dia kemudian menaklukkan padang rumput yang diairi oleh Kuma dan Terek di barat Laut Kaspia.
Berke selanjutnya bertugas di bawah kepemimpinan saudaranya selama invasi Eropa, bertempur dalam Pertempuran Mohi, di mana tentara Hongaria dihancurkan. Ketika Ögodai Khan (1227-1241 M) meninggal, dan semua pangeran dari daerah dipanggil untuk kembali ke Mongolia untuk memilih Khan Besar, Berke dan saudara-saudaranya bergabung dengan Batu dalam suatu kurultai untuk memilih Khan Besar baru. Terpilihlah, Guyuk Khan (1246-1248) sebagai Khan baru.
Meskipun Batu tidak mendukung Güyük dalam pemilihan Ka Khan Mongolia, ia tetap menghormati sang Kha Khan dan mengirim Andrey dan Alexander Nevsky ke Karakorum di Mongolia pada 1247 M. Güyük menunjuk Andrey sebagai pangeran besar Vladimir-Suzdal dan Alexander sebagai pangeran Kiev. Pada 1248, ia meminta Batu datang ke Mongolia untuk menemuinya, sebuah langkah yang oleh beberapa orang sezaman dianggap sebagai dalih untuk penangkapan Batu. Sesuai dengan perintah, Batu datang dengan membawa pasukan besar. Ketika Güyük bergerak ke barat, Sorghaghtani memperingatkan Batu bahwa keluarga Jochi mungkin menjadi sasarannya.
Untunglah Perang saudara tidak terjadi, karena Güyük meninggal dalam perjalanan, di Kabupaten Qinghe modern, Xinjiang, Cina pada tanggal 20 April 1248 M. Güyük mungkin telah diracuni, tetapi beberapa sejarawan modern percaya bahwa ia mati karena sebab alami karena kesehatannya memburuk. Menurut William dari Rubruck, dia terbunuh dalam perkelahian hebat dengan Shiban.
Selepas kejadian itu, Berke kemudian diutus oleh kakaknya untuk pulang kembali ke daratan Mongolia dalam rangka mendudukkan Mongke Khan yang merupakan putra dari Sorghaghtani dan Toley Khan sebagai KhaKhan Imperium Mongoliauntuk menggantikan Guyuk Khan (1246-1248 M). Mungkin sebagai balas budi atas peringatan dari Sorghaghtani.
Dalam perjalanannya ke tanah Mongol ini, rombongan Berke singgah di kota Saray - Jük, yang terletak di Kazakhstan. Di sini mereka bertemu dengan kafilah yang datang dari kota Bukhara. Berke bertanya kepada kepada kafilah tersebut tentang apa dan bagaimana keimanan dalam agama Islam. Rupanya penjelasan mereka membuatnya memutuskan memeluk agama Islam melalui Syeih Saifuddin. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Mongolia.
Sesampainya di daratan Mongolia, Berke beberapa kali mengundang keluarga Chagatai dan Ogodai dalam rangka Kuriltai penobatan Khan baru. Akhirnya Berke berhasil mengatur pengangkatan Khan baru pada kurultai tanggal 1 Juli 1251 M yang memutuskan kedudukan Khan Agung jatuh pada Mongke Khan (1251-1259). Pada prosesi pengangkatan Mongke sebagai Kha Khan ini, atas perintah Berke, hewan-hewan yang dipotong untuk penyajian makanan dalam merayakan pengangkatan Mongke, dipotong menurut aturan hukum Islam.
Keislaman Berke dipandang oleh para sejarawan Muslim sebagai keislaman yang baik. Di bawah kesatuannya, instruksi-instruksi Islami biasa diberikan dan dijalankan. Seorang pendeta Fransiscan, William Rubruck, yang melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaan Mongol menyatakan bahwa Berke tidak mengizinkan babi dimakan di kesatuannya.
Ketika Batu (1240-1255) wafat, anaknya yang sedang berada di Monggolia, Sartaq (1255-1256) , diterima dan diangkat sebagai khan Golden Horde oleh Mongke. Setelah menerima pengangkatan dari Mongke, Sartaq segera kembali ke Golden Horde. Tapi ia meninggal dalam perjalanan, atau tak lama setelah tiba di kawasan Volga. Mongke kemudian menunjuk anak Sartaq yang bernama Ulaghchi (1257) . Namun, yang terakhir ini juga meninggal dunia tak lama setelah itu. Kepemimpinan Golden Horde otomatis berpindah ke tangan Berke (1257-1266). Kepemimpinan Berke di Golden Horde menandai satu babak baru dalam sejarah Kekaisaran Mongol. Dan juga Dunia Islam. Mengapa demikian. Begini ceritanya….
Setelah Mongke menjadi Kha Khan Mongolia, ia memerintahkan adik-adiknya untuk melanjutkan penaklukan. Kubilai melanjutkan penaklukan Negeri China. Sementara adikya yang lain, Hulagu (1256-1265 ), melanjutkan penaklukan daerah-daerah Islam dalam hal ini kawasan Timur Tengah.
Setelah menghancurkan Benteng Alamut yang merupakan maskas kelompok Assassin, dan juga menguasai seluruh kawasan Persia, pada tahun 1258, Hulagu berhasil menguasai Baghdad, menghabisi penduduknya, dan menamatkan riwayat khalifah dunia Islam yang saat itu dipegang oleh al-Musta’sim. Dengan demikan tamatlah Khilafah Islamiyah. Ini merupakan tragedi besar bagi dunia Islam.
Segera setelah menguasai Iraq, Hulagu dan pasukannya merebut wilayah Suriah tanpa menghadapi perlawanan berarti. Ia sudah bersiap menyerang Mesir saat mendengar wafatnya Mongke (1251-1259 M). Oleh karena itu bersama sebagian besar pasukannya, ia memutuskan untuk kembali ke pusat kekaisaran Mongol untuk ikut serta dalam pemilihan Kha Khan dan menugaskan jenderalnya, Kitbugha, untuk menghadapi pasukan Mamluk. Tanpa kehadiran Hulagu, pasukan Mamluk berhasil mengalahkan pasukan Mongol di Ayn Jalut pada tanggal 3 September 1260 M, dan membebaskan wilayah Suriah.
Sementara itu, Berke Khan yang mendengar berita penghancuran Khilafah Islamiyah di Baghdad, menjadi murka dan bersumpah untuk membalas dendam, katanya, "Dia (Hulagu) telah menghabisi semua kota dan penduduknya, kaum muslimin. Dengan bantuan Allah aku akan memanggilnya untuk menjelaskan kenapa begitu banyak darah yang tidak bersalah menjadi korban."
Maka sejak tahun 1261, Berke Khan menjalin hubungan diplomatik dengan Sultan Baybars (1260-1277 M) sang pemimpin Mamluk Mesir guna bersekutu dalam menghadapi Hulagu. Dalam serial Dirilis Ertugrul season 5 ini juga, dikisahkan Ertugrul juga menjalin aliansi dengan Sultan Baybars.
Hulagu saat itu tidak jadi kembali ke Mongolia begitu mendengar kekalahan pasukannya di Ain Jalut. Ia ingin menyerang kembali Suriah dan Mesir untuk membalas kekalahan ini. Akan tetapi serangan pasukan Berke Khan di wilayah kekuasaan Hulaghu pada akhir tahun 1262 M, menyibukkan Hulaghu sehingga tidak sempat lagi menginvasi daerah-daerah muslim.
Pada awalnya Hulagu berhasil mendesak pasukan sepupunya itu dan mengejarnya ke utara hingga mencapai Sungai Terek dan menyeberanginya. Tapi di tempat itu mereka dikejutkan oleh serangan mendadak yang dilakukan oleh Nogai, anggota keluarga dan salah satu pimpinan pasukan Berke. Serangan ini memaksa Hulagu dan pasukannya menyeberangi kembali Sungai Terek yang saat itu sedang membeku oleh musim dingin. Namun kali ini banyak pasukan Hulagu yang terjerembab ke dalam sungai dan tenggelam karena lapisan es sungai itu pecah oleh hentakan tapak-tapak kuda mereka. Hulagu mengalami kekalahan pada pertempuran tersebut dan terpaksa kembali ke wilayah kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang diduduki Hulagu ini yang kemudian diperintah olehnya dan keturunannya disebut Ilkhanate.
Perseteruan antara Golden Horde dan Il-Khanate terus berlangsung ke masa-masa berikutnya, bahkan setelah tiadanya Berke dan Hulagu, tanpa ada pemenang di antara kedua belah pihak. Kendati demikian, upaya Berke ini berhasil menghentikan secara permanen keinginan Hulagu untuk menguasai Suriah dan Mesir, sehingga wilayah-wilayah Muslim itu bebas dari ancaman Mongol. Jika dikatakan oleh para tabib zaman dahulu bahwa obat dari suatu racun biasanya terletak dekat atau pada sumber yang sama dengan racun tersebut, obat penetral bagi musibah yang ditimpakan oleh bangsa Mongol terhadap dunia Islam ternyata juga terdapat di dalam bangsa Mongol itu sendiri. Demikianlah, Berke telah menetralisir bencana yang hendak memporak-porandakan negeri-negeri Islam lebih jauh. Baghdad memang terlanjur jatuh, tapi Haramain dan Jazirah Arab, al-Quds dan Suriah, Mesir dan negeri-negeri Muslim di Afrika Utara dan Andalusia, selamat dari terkaman Mongol.
Berke meninggal pada tahun 1266 M tanpa meninggalkan keturunan laki-laki. Posisinya digantikan oleh keturunan Batu yang lain. Penyebaran Islam terus berlangsung sepeninggalnya dan menjadi agama yang dominan di kerajaannya. Sejak era Berke, sekolah-sekolah Al-Quran telah didirikan untuk mendidik generasi muda. Di samping khan sendiri, setiap istri khan dan para emirnya didampingi oleh para imam dan muazzin
Sumber :
En.Wikipedia
Alwi Alatas : Berke Khan dan Golden Horde
Rockhill, William Woodville (1967), The Journey of William of Rubruck to The Eastern Parts of the World, 1253-55, As Narrated by Himself, With Two Accounts of the Earlier Journey of John of Pian de Carpine.
Devin De Weese. Islamization and Native Religion in the Golden Horde
E.J. Brill's first encyclopaedia of Islam, 1913-1936, Volume 7 By Martijn Theodoor Houtsma, page 708

Jumat, 29 Mei 2020

567 TAHUN LALU

Mei 29, 2020 0



567 tahun lalu, dunia mematri sejarah emas, dimana seorang anak muda 21 tahun, berhasil memimpin pembebasan benteng terkokoh di dunia.

567 tahun lalu, dunia menjadi saksi akan kuatnya visi seseorang, kuatnya tujuan, kuatnya iman.

567 tahun lalu, dunia merekam adab seorang panglima, yang mengalami kebuntuan dalam peperangan, lalu kembali berziarah ke makam sahabat, sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam yang terkubur didekat benteng. Belajar tentang visi para leluhur.

567 tahun lalu, dunia mencatat sebuah misi pembebasan yang mengalir hingga belasan generasi. Diwariskan dari ayah ke anak, anak ke cucu, dan terus mengalir dalam darah keluarga.

567 tahun lalu, dunia menyimak kemuliaan penaklukan. Tanpa ada pembantaian yang lemah. Membuka kota dengan damai setelahnya. Mengijinkan semua agama beribadah. Dilindungi. Tak ada darah tumpah pada wanita dan anak-anak.

567 tahun lalu, seorang Muhammad Al Fatih, mencontohkan kepada kita, bagaimana seharusnya hidup.

Semoga Allah azza wa jalla merahmati Al Fatih. Sang Pembebas Konstantinopel.

Semoga doa kebaikan ini, membawa Rahmat untuk pembebasan Roma jilid II.

URS - Follower


artikel dalam postingan akun fecebook Rendy Saputra

Kamis, 28 Mei 2020

FAJAR MENYINGSING DI KONSTANTINOPEL (ISTANBUL)

Mei 28, 2020 0




Setelah dirasa cukup melakukan persiapan dalam rangka membebaskan Konstantinopel, maka diusianya ke 22 tahun (kalau jaman now : usia baru tamat kuliah S1), Sultan Mehmed II memobilisasi pasukannya baik dari Anatolia maupun dari Rumelia dan kemudian berangkat ke Konstantinopel. Dalam iringan pasukannya itu, meriam besar yang disebut Mehmed Gun juga diikut sertakan.
Kondisi Geopolitik EuroAsia saat itu sangat menguntungkan Mehmed II. Bagaimana tidak, sang Paus tidak punya power yang signifikan lagi untuk menggerakan suatu gerakan Crusade untuk menghadapinya, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap Sultan Bayazid dulu. Negara Perancis dan Inggris juga sedang saling berperang dengan apa yang disebut dengan Perang 100 tahun. Hal ini berbeda dengan keadaan masa Bayazid dahulu yang kedua Negara tersebut berdamai dan ikut dalam kontingen gerakan Crusade untuk menghajar Bayazid. (Baca tulisan kami yang berjudul Prahara di Nicopolis) Sedangkan Negara Hungaria, seperti yang kami sebutkan terdahulu, pasca wafatnya sang Raja dalam perang Varna, kendali pemerintahan dipegang oleh John Hunyadi yang bertindak sebagai wali Raja, dan sudah terikat dengan perjanjian damai dengan Mehmed II. Sementara ancaman dari kawasan timur sudah tidak ada lagi. Saat itu tidak ada lagi tokoh Perang sekaliber Timur Leng yang pernah mengalahkan Sultan Bayazid sehingga Negara Ottoman sempat terpecah belah (Baca tulisan kami yang berjudul: Petaka di Ankara). Bahkan Negara Timuriyah yang didirikan Timur Leng sedang diambang keruntuhannya.
Begitu tiba di Konstantinopel, Sultan Mehmed II segera mengatur pasukannya. Tenda Sultan diletakkan menghadap ke temhok benteng di sebelah batat Konstantinopel pada arah gerbang St. Romanus yang terletak di tengah-tengah. Pasukan Yanisari ditempatkan di depan tenda Sultan serta di sekelilingnya. Meriam raksasa serta dua meriam lainnya yang lebih kecil juga disiagakan tak jauh dari tempat itu, dengan mengarah ke tembok Konstantinopel. Pada sayap kanan disiagakan pasukan divisi Anatolia yang dipimpin oleh Ishak Pasha, dan di sayap kiri disiagakan pasukan divisi Eropa. Zaganosh Pasha dengan pasukannya ditempatkan di utara Galata serta Pera. Sementara Sulayman Bey dengan kapal-kapal lautnya memblokade Laut Marmara dan jalur masuk ke Selar Bosporus. Musuh kini sudah di depan mata Byzantium dan mereka sudah terkepung dari semua jalur.
Mehmed II tidak langsung melakukan penyerangan rerhadap kota ini. Sehagaimana tradisi perang dalam Islam, ia menawarkan tiga hal pada pihak Byzantium: masuk Islam, menyerahkan kotasecara baik-baik tanpa harus memeluk Islam, atau diperangi.
Kaisar Byzantium, Constantine XI menginginkan opsi yang berbeda. Ia bersedia membayar uperi pada Ottoman tanpa menyerahkan kota. Tentu saja Mehmed II tidak tertarik tawaran ini, karena tekadnya untuk menguasai Konstantinopel sudah bulat. Proses negosiasi berakhir.
Dalam salah satu suratnya, Mehmed II memberikan jaminan keselamatan pada Kaisar serta penduduk kota itu sekiranya mereka mau menyerahkan kan kota tersebut kepada Ottoman. Hanya saja pihak Byzantiumtidak mau menerima tawaran itu. Sang Kaisar dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa, bertekad mempertahankan kota.
Pada hari jumat, 6 April 1453 M, Sultan dan seluruh pasukannya melaksanakan shalat jumat berjamaah. Sekitar seratus limapuluh ribu orang melakukan shalat bersama- sama, didahului oleh pekik adzan dan takbir. Kemudian diikuti dengan dengan gumam amiin secara serempak setelah, imam shalat selesai membaca suratAl-Fatihah.
Tepat setelah sholat Jumat, Sultan memulai serangannya terhadap Konstantinopel. Meriam-meriam Ottoman menembakkan pelurunya secara terus menerus menumbuk keras tembok konstantinopel, meluruhkan sebagian batu-batu yang menyusun tembok itu
Selain itu pasukan Ottoman juga menggunakan manjanik dan Katapel raksasa untuk melemparkan batu-batu besar ke dalam benteng. Seluruh pasukan juga bergerak menuju benteng. Adayang menaiki benteng dengan tangga-tangga. Sebagian pasukan lain menghujani musuh yang diatas tembok dengan panah. Adajuga divisi pasukan yang khusus membuat terowongan. Namun karena benteng itu sangat kokoh, maka usaha-usaha itu mengalami kegagalan.
Hampir selama satu bulan pasukan Bizantium bisa mempertahankan benteng Konstantinopel. Serangan-serangan yang dilakukan oleh pasukan Ottoman memang berhasil membuat beberapa bagian benteng roboh, tapi tetap tidak bisa menembus benteng. Inilah yang membuat semangat pasukan Bizantium meningkat.
Selama masa penyerangan pasukan Ottoman ini, Kaisar Bizantium berusaha untuk membujuk Sultan Mehmed II. Ia menawarkan daerah-daerah lain yang dimilikinya asalkan Sultan Mehmed II menghentikan serangan terhadap Konstantinopel. Akan tetapi, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sultan Mehmed II. Sang sultan menjawab tawaran tersebut dengan mengirimkan surat. Suratitu berbunyi:
“Wahai Kaisar Bizantium, jika engkau rela menyerahkan Konstantinopel maka aku bersumpah bahwa tentaraku tidak akan mengancam nyawa, harta, dan kehormatan rakyat Konstantinopel. Aku akan melindungi rakyatmu yang ingin tinggal dan hidup di Konstantinopel. Dan, bagi rakyatmu yang akan meninggalkan Konstantinopel maka keamanan mereka akan dijamin.”
Karena tidak ada titik temu maka pertempuran pun terus berlanjut. Pada tanggal 18 April pasukan Ottoman kembali melakukan serangan besar-besaran. Serangan ini mampu merobohkan benteng Konstantinopel yang berada di Lembah Lycos. Selain serangan darat, pasukan Ottoman juga menggencarkan serangan dari laut. Armada laut Ottoman berusaha untuk menerobos rantai-rantai bergerigi yang dipasang oleh pasukan Bizantium. Akan tetapi, usaha ini belum juga menemukan keberhasilan. Akibatnya banyak kapal perang Ottoman yang tenggelam. Hal ini menyebabkan sebagian besar pasukan yang ada di laut pupus harapan. Pada kondisi seperti ini Sultan Mehmed II segera memberikan suntikan semangat pada prajuritnya. Ia berkata, “Kalian tawan semua kapal Bizantium atau kalian semua tenggelam.” Selesai mengucapkan kata-kata itu ia memacu kudanya sampai ke bibir pantai. Lecutan semangat dari sang sultan itu mampu membangkitkan kembali moral pasukan Ottoman. Mereka kembali bertempur, berusaha menerjang rantai-rantai di lautan. Namun sekali lagi usaha ini tidak berhasil. Pasukan laut Bizantium yang telah bergabung dengan pasukan Salib berhasil menghadang gerak maju pasukan Ottoman.
Kegagalan serangan laut itu membuat gusar Sultan Mehmed II. Ia segera memecat panglima angkatan laut, Sulaiman Beltaglu, menggantikannya dengan Hamzah Pasha. Sementara itu, moral prajurit Ottoman kembali meluruh. Keadaan inilah yang mendorong Khalil Pasha, wazir Ottoman, mengusulkan pada Sultan Mehmed II untuk membatalkan serangan dan menerima kesepakatan yang ditawarkan oleh Kaisar Konstantinopel. Jelas, usul tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sultan Mehmed II. Sebagai pewaris Kesultanan Ottoman ia tidak akan menyerah begitu saja. Maka ia berpikir keras agar jalan buntu itu bisa diurai. Ia mempunyai keyakinan pasti ada jalan keluar untuk bisa menerobos Tanjung Emas. Dan benar, setelah berpikir dengan serius akhirnya Sultan Mehmed II menemukan ide yang menakjubkan, yaitu memindahkan kapal dari lautan lewat darat.
Begitu mendapatkan ide “gila”, pada malam harinya Sultan Mehmed II memerintahkan agar prajuritnya memindahkan kapal perang dari laut ke darat. Awalnya ide ini dijalankan dengan setengah hati oleh para prajurit Ottoman karena mengira sultan mereka telah gila akibat tidak berhasil melakukan serangan dari laut. Akan tetapi, setelah Sultan Mehmed II menjelaskan secara rinci bagaimana cara memindahkan kapal-kapal itu, mereka mulai bisa menerima.
Awalnya Sultan Mehmed II memerintahkan pada prajuritnya untuk mengumpulkan kayu gelondongan dan minyak goreng. Kayu-kayu tersebut kemudian diolesi dengan minyak goreng sehingga menjadi licin. Setelah semuanya siap kemudian sang sultan memerintahkan agar kapal-kapal perang mulai ditarik ke daratan dengan menjadikan kayu-kayu gelondongan sebagai rodanya. Paraprajurit bekerja keras menjalankan perintah sultannya. Mereka terus bekerja sepanjang malam.
Pada malam itu, kapal-kapal perang Ottoman mulai ‘berlayar’ di daratan. Kapal-kapal tersebut melintasi lembah dan bukit. Sebuah peristiwa yang kelihatannya tidak masuk akal. Akhirnya, berkat kerja keras pasukan Ottoman, ketika pagi telah pecah di ufuk timur, 70 kapal perang Ottoman telah berpindah lokasi, berhasil melintasi Tanjung Emas lewat daratan, melintasi Besiktas ke Galata.
Rakyat Bizantium begitu terkejut melihat peristiwa “kapal-kapal yang berlayar di daratan”. Mereka tak percaya dengan kejadian yang mereka lihat. Karena tak percaya, sebagian dari mereka menggosok-gosok mata, dan sebagian yang lain mencubit diri mereka sendiri untuk memastikan bahwa semuanya bukan mimpi. Setelah yakin bahwa peristiwa yang mereka lihat adalah kenyataan, tuduhan-tuduhan pun mulai terlontar. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa pasukan Ottoman pastilah dibantu oleh jin dan setan. Sementara itu, Yilmaz Oztuna, penulis buku “Osmanli Tarihi”, menceritakan bagaimana seorang ahli sejarah Bizantium berkata, “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Mehmed al-Fatih telah menukar darat menjadi lautan, melayarkan kapalnya di puncak gunung dan bukannya di ombak lautan. Sesungguhnya Mehmed al-Fatih dengan usahanya ini telah mengungguli yang pernah dilakukan Alexander the Great!”
Sementara dipihak Ottoman, peristiwa ini berhasil mengembalikan kepercayaan diri pasukan. Mereka tak lesu lagi dan siap melancarkan serangan kembali. Serangan mematikan pun tinggal menunggu waktu.
Ketika purnama telah berlalu Sultan Mehmed II merencanakan serangan itu dilancarkan. Mengapa ia memilih serangan pada saat ini? Dari membaca buku-buku tentang mitologi masyarakat Konstantinopel ia mendapatkan bahwa mereka percaya bahwa selama bulan purnama maka kotamereka akan selalu dilindungi. Karena kepercayaan ini maka baik prajurit maupun masyarakat Konstantinopel akan yakin bahwa mereka tak akan bisa dikalahkan. Inilah yang menyebabkan mereka sulit dikalahkan. Oleh karena itu, ketika purnama telah berlalu Sultan Mehmed II melancarkan serangan terakhir.
Sebelum serangan dimulai, Sultan Mehmed II dan pasukannya menjalankan shalat. Seusai shalat mereka kemudian berdoa, meminta kepada Allah swt agar kemenangan yang sudah berada di depan mata itu menjadi kenyataan. Sementara itu, penduduk Konstantinopel juga melakukan hal serupa. Mereka menggelar misa di Hagia Sophia.
Tanggal 29 Mei 1453, Pasukan Ottoman melakukan serangan besar-besaran dan berusaha memasuki benteng Konstantinopel. Kali ini pasukan Ottoman terdiri dari tiga lapis. Lapis pertama terdiri dari pasukan yang berasal dari Anatolia, sedangkan lapis kedua dan ketiga merupakan kesatuan Yanisari.
Melihat serangan besar-besaran ini, Giustiniani–salah satu panglima Bizantium–menyarankan agar Constantinemundur. Akan tetapi, saran tersebut ditolak oleh Constantine. Beberapa ahli sejarah menceritakan bahwa Constantinemelepas baju perang dan kemudian bertempur bersama pasukannya. Dan, setelah perang usai jasadnya tidak pernah ditemukan.
Akhirnya, setelah berperang selama sebulan pasukan Ottoman bisa menguasai kota Konstantinopel melalui pintu Edinerne. Begitu memasuki kotaKonstantinopel, Sultan Mehmed II dalam pidatonya menyatakan akan melindungi seluruh penduduk kotaitu yang menyerahkan diri. Ia juga berjanji melindungi tempat-tempat ibadah, baik milik orang-orang Kristen maupun Yahudi Pidato yang terkenal ini disampaikan Sultan Mehmed II di pelataran Hagia Sophia, di hadapan penduduk Konstantinopel.
Ketika Konstantinopel benar-benar bisa direbut, Mehmed II berkata, “…sesungguhnya kalian melihat aku gembira sekali. Kegembiraanku ini bukanlah semata-mata karena kejayaan kita menaklukkan kota ini. Akan tetapi karena di sisiku hadir syeikhku yang mulia, dialah pendidikku, asy-Syeikh Ak Semsettin.”
Sebuah catatan dari Fetih Sutan Wassito, 567 tahun setelah Pembebasan Kostantinopel (29 Mei 2020 M).
Sumber :
1453 : karya Roger Crowley
Muhammad Al Fatih 1453 : karya Felix Siauw
Ottoman Empire : karya Collin Imber
Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Usmaniyah : karya Prof. Dr. Ali Muhammad As Shalaby
Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel karya Alwi Alatas
Fatih, Elang Besar Pembebas Konstantinopel karya : Okay Tiryakioglu
Sultan Mehmed II Sang Pembantai Dracula oleh Orhan Basarab